Tempat Wisata Tidung Yang Tak Terlupakan

Akhir Januari 2017 saya melakukan perjalanan di Pulau Tidung. Salah satu pulau sebagai bagian dari kepulauan Seribu. Saya itupun sebenarnya tak mengetahui kalau ke Indonesia ada yang bernama pulau Pari. Awalnya saya ingin mengunjungi teman di Jakarta tepat pada H ulang tahunnya. Saya hanya mengatakan ingin liburan ke Jakarta untuk beberapa hari yang singkat. Teman kemudian menawarkan liburan ke Kepulauan Seribu. Namun, kala itu sahabat mempunyai rencana ingin ke pulau Bidadari. Sehabis mempertimbangkan beberapa pulau akhirnya kami berduaan memutuskan untuk berpetualang ke Tempat wisata Tidung. Jumat malam saya mengangkut penumpang dengan pesawat ke Jakarta. Jumat pagi kami sudah harus melintang pelabuhan Muara Angke pukul 06. 00 WIB. Sahabat telah membeli paket ke Pulau Tidung untuk 2 hari 1 malam seharga Rp500. 000, 00/orang. Paket termasuk pelayaran ke tempat wisata Tidung dari Muara Angke PP, penginapan, makan, snorkeling dan gunakan sepeda.

Pulau Tidung

Perjalanan ke Muara Angke dari tempat kos sahabat nan berada di kampung Bali, Jakarta Sentra lumayan jauh. Pagi-pagi buta telah harus menunggu taksi di tepi jalan besar dengan tas ransel di punggung. Sahabat menyetop suatu taksi putih dan meminta diantarkan ke Muara Angke. Perjalanan untuk beberapa menit kami habiskan menggunakan mengobrol. Sampailah kami di pertigaan dekat pelabuhan. Supir taksi enggan masuk ke arah pelabuhan karena padat luar biasa. Dia menyuruh kami berduaan untuk naik ojek atau becak ke dalam pelabuhan. Celingak-celinguk mencari Apa tukang ojek ataupun becak nan lewat. Sahabat ingin jalan kaki aja. Desakan motor yang merepet ke atas pinggir membuat kami tak dapat jalan kaki. Kami memutuskan untuk datang ojek ataupun becak yang melalui. Sebuah becak melaju dari ke arah tikungan menawarkan diri. “Berapa utk ke pelabuhan pak? ” “Sepuluh ribu neng, ” jawab ayah tua tukang becak. Kami berduaan naik ke sebuah becak berukuran pas sekali untuk kami berduaan. Tadinya saya ingin menunggu sebuah becak lagi. Kasihan dengan sang bapak kalau menarik becaknya menggunakan kami berdua di dalamnya. Tubuh kami jika digabungkan sekitar 150 kg ditambah ransel kami. Namun si bapak tidak mau. Ia melibatkan kami berdua naik ke becaknya. Saya dan sahabat pun bermain.

 

Senangnya naik becak di awal hari di area yang masih kedalam tempat wisata Pulau Seribu ini. Semilir angin membuai. Kami dan sahabat tertawa riang. Becak sudah jarang ditemui di Jakarta. Apalagi di Indonesia. Hanya berada beberapa daerah di Indonesia nan masih mempertahankan kendaraan ini menjadi alat transportasi. Duukkk!!! Becak miring di kanan. Tepat di sebelah dimanakah saya duduk. “Duh… perasaan tubuh tidak terlalu berat deh. Kenapa becaknya jadi miring begini? “ yakin saya. Ternyata ada lubang ke pinggir jalan. Roda sebelah kanannya masuk ke lubang itu. Saya ingin hendak turun supaya si ayah dapat mengangkat becaknya kembali. Tapi seperti tadi, bapak tukang becak tak membolehkan. Ia menyuruh kami tetap di atas becaknya. Ia pula mengangkat roda becaknya dari lubang.

Tak tega melihatnya. Saya lalu sahabat berdiskusi. Saya dan teman begitu terharu. Demi selembar Budget seharga Rp10. 000, 00 ayah di belakang saya yang sedang menambah becaknya, sedemikian rupa bekerja keras. Ramai becak yang menurut saya lumayan berat dengan kami berdua, memompa becak dari lobang dengan aku berdua. Bagi kami uang harga Rp10. 000, 00 tak terlalu mempunyai arti, ternyata bagi orang lain teramat mempunyai arti. Kami berdua memutuskan untuk menambahkan bagi si bapak. Memasuki dermaga Muara Angke, bau amis merebak. Tak tahan dengan baunya, kami menutup hidung. Jarang-jarang dapat aroma wangi yang demikian. Harus anti selama beberapa menit melewati lokasi pelelangan ikan. Daerah yang aku lalui terlihat kotor dan ada beberapa genangan air. Tak lama tibalah kami di area tunggu. Banyak sekali orang yang berdatangan ke lokasi penjemputan untuk ke Pulau Pari. Kami berdua kemudian diantar dengan seorang pemandu ke sebuah perahu nelayan. Saya pikir ke pulau tersebut dengan kapal Ferry. Ternyata kapal warga. Ya.. apa boleh buat. Kapan lagi bisa naik kapal warga bukan?

Kami mengambil tempat ke lantai 2 kapal. Mencari lokasi di ujung depan dan mengadakan badan alias berbaring di tingkat. Serasa mengenang jaman kuliah, dapat menggeletak di mana saja. Sahabat segera tertidur, sedangkan saya melihat-lihat sejumlah orang yang masuk ke ruangan dipermukaan. Beberapa orang melihat kami berduaan dengan aneh. Bayangkan, 2 anda wanita berbaring dengan ranselsebagai bantal. Salah satunya tidur dengan cueknya. Kemudian kami berbaring, orang-orang hanya tinggal di lantai. Batin saya, sedang mereka menganggap kami aneh, namun lihat saja nanti ketika perahu telah bergerak. Selamat menikmati travel di laut! Baru sejam travel laut, beberapa orang kulihat sudah berubah mukanya. Pucat. Tersiksa. Bingung. Mabuk laut judulnya. Ombak nan cukup keras menggoncang kapal di kanan dan kiri. Saya lalu sahabat malah asik menikmatinya. Berbaring membuat kami tidak merasakan mabuk laut. Badan kami mengikuti Dinamika kapal seolah menyatu dengan tingkat. Saya pun terlelap karena ayunan nina bobok kapal. Sampailah aku di pelabuhan pulau Tidung. Perahu menyandar di dermaga. Seperti ini ketika berangkat, beberapa kapal tertata rapi. Penumpang harus melewati sejumlah kapal untuk sampai ke tujuan. Bekerja, melompati kapal satu dan lainnya s.d tiba di ujung. Birunya maritim dan putihnya pantai menyambut aku. Seorang pemandu telah menunggu. Ia mengajak kami ke tempat aku akan menginap. Berjalan lumayan sedikit dari dermaga. Orang berlalu lalang di jalanan yang sempit. Bisa cukup dilalui becak motor Sebaliknya.

Pulau Harapan

Kami mendapat kamar yang cukup bagus untuk ukuran penginapan ke pulau Tidung. Kamar sekitar 30 x 4 meter dengan dua kasur di bawah, sebuah kamar mandi lalu sebuah ruangan untuk nonton TELEVISI. Selain penginapan, rumah penduduk pula disewakan bagi pengunjung. Penginapan aku terletak tepat di pinggir bahari. Yipiiieee… menyenangkan sekali. Dapat room paling ujung di pantai. Paket tour aku hari pertama yaitu snorkeling sehabis makan siang. Makan siang pun tak harus bingung karena sudah termasuk didalam paket. Memang hanya menu rumahan seadanya, tapi cukup bagi aku. Siangnya kami berdua diantar tour guide naik sepeda menuju dermaga kecil. Masing2 kami mengayuh sepeda dengan ring di depannya. Lumayan juga sekaligus berolahraga. Sepanjang penglihatan saya sepeda motor di pulau ini hanyalah sepeda, becak sepeda motor dan sepeda motor. Tidak ada mobil. Tentu. Jalannya tidak cukup. Perahu sampan dengan mesin pendorong telah nunggu. Beberapa orang telah berada di sekitarnya. Rupanya kami penumpang terakhir nan ditunggu. Saya dan sahabat bergegas ke sampan diikuti pemandu aku. Laut biru terhampar di muka mata. Sejauh mata memandang yang berwarna biru dan putih yang terlihat. Langit biru, awan putih lalu laut biru di sepanjang gugusan. Menikmati semilir angin laut lalu ayunan riak gelombang. Tibalah ke sebuah tempat. Bersiap untuk diving. Terus terang baru sekali turut snorkeling di Bali. Ketika musti snorkeling lagi di pulau Pari saya harus menyesuaikan kembali. Lagi untuk bernafas dengan peralatannya. Dengan pelampung karena saya tak dapat berenang. Yang penting modal nekat lalu tak jauh-jauh dari perahu. Merefreshingkan hati ketika bernafas dan menghuni di lautan. Arusnya tak terlalu banyak. Untunglah. Awalnya masih sedikit heran, tapi lama kelamaan saya memang menikmatinya. Sayangnya, ikan yang tampak tak terlalu banyak. Hanya ikan-ikan mini. Tapi cukuplah untuk menyegarkan ati. Demikian pula dengan terumbu karang. Beberapamulai rusak dan kurang terawat. Disayangkan.

Puas bersnorkeling, kami pergi ke arah jembatan. Nama jembatannya jembatan asmara. Disebut demikian karena jembatan ini menghubungkan antara pulau Tidung Raksasa dan pulau Tidung Kecil. Istimewa sekali jika ingin berfoto pada jembatan. Air laut bening hingga dapat terlihat ikan ataupun terumbu ke dalamnya. Saya dan sahabat membeli tiket untuk berganti baju dulu ke kamar mandi dekat jembatan. Memang tidak bersih tapi kalau hanya utk membilas diri dan berganti bebajuan sudah cukup. Kami kemudian mendapatkan pemandangan di sepanjang jembatan asmara. Berfoto… Berjalan… Memandang matahari nan mulai terbenam. Momen yang memang indah untuk diabadikan. Saking baiknya pemandangan lautnya yang biru, berada sekelompok grup musik dari Malaysia yang sedang membuat video klip ke jembatan dengan latar belakang laut lho… Sejumlah orang menaiki banana boat di bawah jembatan cinta, ada pula yang terjun leluasa dari jembatan ke laut, ada yang lainnya hanya berenang di bawah jembatan. Selepas matahari terbenam, kami kembali di penginapan. Makan malam telah menanti aku. Hari kedua, harus bangun awal. Hendak bersepeda ke jembatan asmara. Kalau kemarin sore melalui maritim, pagi ini melalui darat menggunakan sepeda. Kalau kemarin menikmati keadaan matahariterbenam, pagi ini menikmati mentari yang baru bangun dari tidurnya. Jernih hanya di satu tempat, aku dapat menyaksikkan baik sunset atau sunrise. Seperti kemarin pula aku berfoto. Namun kali ini dari tepi pantai yang berpasir putih. Keriaan tampak di wajah hampir semua orang yang berkunjung ke pulau Pari. Jarang orang Jakarta dapat berenang pasir putih seperti ini.

Pulau Pramuka

Hari ke-2 hanya kami habiskan sebentar. Sebab setelah makan siang kami harus di dermaga. Kembali ke dalam kapal warga yang kan membawa kami ke Jakarta. Kali ini kami keduluan rombongan orang yang telah menempati tingkat 2 kapal. Hiks… sedih. Lokasi kami diserobot orang. Akhirnya aku memilih untuk menempati geladak dalam paling ujung belakang yang dekat dengan alat. Biarlah kena suara bising, penting masih kena angin laut. Agar tidak terlalu mabuk laut. Dan semacam sebelumnya, kami berdua langsung membangun badan di lantai. Serombongan anda berpakaian kaos seragam berwarna aren datang mendesak tempat kami. Nya tertawa dan mengobrol seenaknya. Pikir beramai-ramai lantas tak mau menghargai kami yang telah berada terlebih dahulu di sana. Saya dan sahabat semacam biasa hanya diam. Beberapa anda memandangi kami dengan aneh. Malah ada yang memandangi kami dengan kilas mata kurang ajar. “Ya… lihatlah nanti ketika kapal telah bekerja, ” batin saya. Saya lalu sahabat kemudian tertidur. Ketika perahu sudah berlayar hampir sejam, kita itu pun menjadi terdiam. Sebagian sudah mulai muntah-muntah, ada yang bingung dan mabuk, ada yang sudah semacam tersiksa wajahnya. Yaa.. apa ingin dikata. Memang begitulah kondisinya bermain kapal. Harus pintar-pintar menjaga seorang selama perjalanan.

Tibalah kami lagi di Muara Angke. Bau semerbak ikan kembali menusuk hidungku. Aku ingin naik becak lagi ke perempatan jalan. Menaiki becak berduaan dan tertawa. Mengingat kejadian yang lalu pagi ketika becak masuk ke didalam lubang. Sahabat menyalahkan badanku nan keberatan. Pengalaman naik becak nan mengasyikkan terjadi lagi. Becak melalui jalan yang tergenang air. Banjir di pelabuhan Muara Angke. Tidak tanggung-tanggung. Sepanjang jalan hingga di jalan utama banjir baru lenyap. Bapak tukang becak pun menerobos banjir dengan riangnya. Terkadang hal yang menurut kita kurang mempunyai arti, justru malah berarti bagi kompetitor. Sebuah perjalanan tidak hanya menyisakan pemandangan saja, namun juga berada kisah-kisah yang dapat mengingatkan anda akan kehidupan yang sesungguhnya. Hingga kini saya masih mengenang berwisata bersama sahabat di pulau Pari. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Adventure ke pulau Tidung bersama teman. Kami dapat menertawakan hal-hal ramai yang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>